ASA

Indonesian. Documenting things that odd, beautiful, sad, confusing, trend, makes you hungry, I hate, I like, live and so on.

ENVY THEM !!

Pertama-tama, aku iri sama perempuan-perempuan ini, karena punya kesempatan buat foto sekaligus kencan (makan bareng cyiiiin, seriusan, sueerrr!!) bareng one of the greatest actor from Indonesia, Reza Rahardian. 

image

image

image

image

Kedua : aku juga gak nyangka kalau Reza Rahardian bakal ke Semarang buat promo kopi luwak white coffee. Antusiasme fansnya cukup mengerikan, alias garis keras, mulai dari maen tubruk buat meluk, nyium pipi, sampai narik jambangnya doi. Geez, ekspresinya Reza kasihan banget *puk puk*

I’m his #1 big fan, sejak nonton aktingnya di film “Hari Untuk Amanda”. Sejak saat itu, selalu ngikutin setiap film-filmnya. Apalagi pas doi akting sebagai Remigius Aditya di film “Perahu Kertas”, ajegileeeee…..nonton aktingnya aja uda berasa nge-fly.

Ini tuh kayak mimpi yang jadi kenyataan, akhirnya bisa ketemu langsung Reza Rahardian. Senaaaaaaaang :) 

image

image

image


image

image

Please meet with the hottest man on Earth #3 based on my list.

Junior Rorimpandey, atau lebih dikenal dengan Chef Juna. Namanya mulai meroket, ketika menjadi juri di ajang kompetisi memasak nasional yaitu Master Chef Indonesia. Karakter Juna yang dingin dan galak ketika menjadi juri membuatnya semakin digila-gilai. Fansnya semakin penasaran, karena ia jarang tersenyum dan terkesan sangat serius. Belum lagi penampilannya yang eksentrik sebagai seorang chef, dengan tato yang memenuhi tangan kanan dan kirinya, membuat kiprahnya di dunia hiburan semakin diingat oleh masyarakat.

Suatu kali saya melihat satu episode dimana Chef Juna tersenyum lepas. WOW…..giginya rapih and he has good face muscles. Serius!

Jadi, ketika dia menjadi bintang tamu di acara fun cooking dalam acara grand opening salah satu perumahan baru di Semarang, saya memutuskan untuk datang dan berusaha menangkap momen ketika dia sedang tersenyum lepas. 

It’s not the easiest thing to do! Saya harus bersaing dengan begitu banyak fans yang sangat agresif. Saya harus berdesak-desakan dengan para fans, dan parahnya acara fun cooking berubah menjadi fun seeing. Kebanyakan para pengunjung yang datang lebih senang memperhatikan wajah Chef Juna daripada memperhatikan tips dan cara memasak yang sedang diperagakan oleh chef bertato tersebut. Pengunjung malah sibuk mengabadikan momen Chef Juna sedang memasak dengan kamera handphone, tablet, dan kamera poket mereka daripada mencatat apa yang sedang dikatakan oleh Juna. 

Chef Juna yang katanya pemalu, menjadi berkeringat entah karena antusias dan keagresifitasan pengunjung atau karena memang cuaca sedang panas. Hahahahaha….

Inilah hasil jepretan saya, enjoy!

twomonthversary and I’ll say goodbye.

Harry Shum Jr. : “You are the six. You are all of them. You are the six. You are the Last”  

Wow, hari ini tulisan yang saya posting lumayan banyak. Kali ini gak ngomongin tentang video fountain show lagi. Sekarang saatnya ngomongin film yang pengen saya tonton & saya merekomendasikannya buat semua pecinta film, khususnya yang bosan dengan film-film Hollywood, Bollywood, K-Pop, & J-pop yang bisa dibilang telah menginvasi dunia (oke yang ini lebay!). Dari trailer yang saya lihat sepertinya kedua ini film ini lebih menonjolkan isu-isu tentang agama, budaya, dan keberadaan perempuan di negara-negara Timur Tengah.

Yak! Dua film ini berjudul Caramel dan Where Do We Go Now? (judul versi Inggrisnya biar gampang inget). Keduanya disutradarai, ditulis, dan dimainkan (kalau di Indonesia mungkin kayak Rano Karno) oleh aktris yang berdarah Lebanon-Kanada, yaitu Nadine Labaki .  

Menurut trailer yang saya lihat dan sinopsis-sinopsis yang sudah ditulis oleh beberapa orang, kedua film ini mengangkat mengenai kehidupan perempuan-perempuan Lebanon dengan latar belakang dan agama yang berbeda. 

Caramel : mengangkat kisah 5 orang perempuan Lebanon yang tinggal di Beirut, yang berhadapan dengan masalah sehari-hari seperti yang dihadapi orang-orang kebanyakan. Hanya saja dikemas dalam bentuk komedi romantis.

Where Do We Go Now? :  Sekelompok perempuan Lebanon yang berusaha mendamaikan ketegangan akibat perbedaan agama yang ada di desanya. Yang menarik dari film ini adalah bagaimana agama Islam dan Nasrani diceritakan hidup berdampingan di sebuah desa (gereja dan masjid benar-benar bersebelahan), kemudian timbul konflik di antara pemuda Islam dan Nasrani, dan penduduk desa tersebut terutama kaum perempuannya berusaha menyelesaikannya dengan cara yang unik dan damai (Well, kayaknya sih gitu dari trailer yang saya lihat).